Sesaat tenggorokan ku tercekat
hanya untuk sebuah kata
satu kata vital yang sensitif
Terpendam,
itulah akhirnya
Entah tahu atau tidak
atau mungkin jijik dan hina mengetahuinya
Kau pilih yang lain
Ku hanya berharap yang terbaik
dari Sang Ilahi
Ku berjalan dalam diam
tanpa kata
Ku melihat dalam diam
tanpa bicara
Terlalu banyak sudah kemunafikan
dibalik bangunnya kurva-kurva
dibalik bangunnya gedung-gedung
Seperti ilusi dalam fatarmogana
yang seolah tanpa akhir